(Smile The Tears)
Direct:H.A.y
Foto ini satu-satunya kenangan terakhir yang kumiliki dari kakaku. Sudah 10 tahun foto ini aku simpan, kemanapun aku pergi selalu ku bawa foto ini, selalu ku jaga foto ini agar tak sampai rusak karena hanya ini yang kumiliki darinya. Amatlah berharga foto ini. Setiap kali kulihat foto ini mengingatkanku banyak hal tentangnya, banyak hal tentang kebodohanku dimasa lalu, tentang kisah kakak beradik yang harus tepisah, tentang penyesalan seorang adik, tentang peristiwa yang sampai sekarang takan pernah terlupakan olehku. Air mata yang bercucuran ke foto ini, mencurahkan semua rasa sesalku yang tiada henti semenjak kejadian itu, sungguh penyesalan akan kebodohanku dimasa lalu. Tak jarang tangan ini ingin memukul orang yang sangat bodoh, orang yang enggan hidup rukun bersama saudaranya sendiri, itulah aku. Betapa bodohnya aku ini. Sekarang apa yang aku miliki? Rasa penyesalan kah? Rasa ke egoisan kah? Atau seperti orang bego yang pura-pura tak bersalah dan terbahak-bahak melihat kejadian yang mengerikan bagi keluargaku itu. Itu lah aku dengan rasa penyesalan yang tiada kunjung sembuh. Ya Allah maafkanlah hambamu ini, maafkanlah adik yang berdosa kepada kakanya sendiri, maafkanlah adik yang enggan rukun dengan kakaknya, maafkanlah adik yang durhaka kepada kakaknya ini.
Sudah 10 tahun ini rasa penyesalan dan kehilangan yang berlarut-larut seakan menerkam jiwa yang dosa ini, rasa hati yang selalu diselimuti penyesalan. “Kenapa semua ini begitu cepat terjadi padamu kak? Kenapa harus kamu, saudaraku satu-satunya. Sampai saat ini aku selalu kesepian. Tak ada lagi teman tidur sekamar, tak ada lagi teman untuk bertengkar, tak ada lagi teman ngompol bareng dan tak ada lagi teman bercandaan kaya dulu lagi. Meski kita selalu bertengkar, tapi itu hal yang wajar bagi seorang kakak beradik yang tak terlalu jauh umurnya, apalagi postur tubuh kita hampir sama.” ucapku sambil memandangi foto ini. Bak kucing dan anjing hidup kami yang selalu bertengkar dan tak pernah akur tapi adakalanya juga kami tertawa terbahak bersama. Selama ini belum pernah aku panggil kakaku dengan sebutan kakak. Sambil memegang foto aku terbayang dengan kenangan-kenangan aku dan kakaku dulu. Aku terbayang dan mulai berbicara lagi ke foto yang ku pegang ini. Teringat jelas waktu aku dan kakaku bertengkar heboh sampai orang tuaku marah besar ke aku dan kakaku. Saat itu kakaku menantangku berkelahi kaya film naruto. Waktu itu aku kelas 4 SD dan kakaku berada di kelas 5. “Ayo kita main aku jadi sasukenya kamu jadi narutonya!” tantang kakak. Aku pun menjawabnya “Baiklah aku yang menjadi narutonya, rasakan ini hyaaaaaa ! Dug rasenggan” . Namun kakaku mainya tak becanda melainkan serius dan tega ngejedotin aku ke tembok. Aku pun marah dan kubalas pukul kepalanya sampai bengkak. Akhirnya kami pun saling pukul sampai kami nangis bareng. Terdengar suara berantem kami oleh ayah. Ayah pun langsung memaraih kami dan sampai hati mengoleskan kotoran sapi ke bibir kami . Kencang sekali jerit tangis kami. Bukan itu saja setiap hari ketika tidur kami selalu berebut di peluk sama ayah, dan sering bertengkar gara-gara itu. Apa lagi kejadian yang paling membuatku marah dan tega memukulnya yaitu saat kau menarik gigiku yang mau copot dengan tali rafia dan malah jadi ompong dua. Itu beberapa kejadian yang selalu kuingat dari kakaku.”Apakah kau masih mengingatnya juga kak kenangan itu? Masih ingat kah juga kak semenjak kejadian itu kau juga selalu mengejeku dengan memanggilku caplang karena telingaku yang lebar, tak terima kau juga ku panggil rai bosok(muka rusak) karena dulu mukamu banyak jerawatnya.” ucapku yang sedang memegang fotomu dengan mata yang memerah. Kami dari dulu memang tak pernah akur mulai kita sekolah SD yang ga pernah bareng, SMP juga ga pernah bareng, bahkan SMK pun kami beda sekolah. Kata orang kami memiliki sifat yang berbalikan, aku rajin dia pemalas, aku pintar dia pas-pasan, aku baik tapi dia nakal tapi untuk pengalaman hidup dan berkata kakaku lah yang terbaik, karena kakaku cukup pandai menata kata dan sopan. Ini adalah hari tepat 10 tahun kakaku meninggalkan kami.
Hal lucu yang masih terkenang diantara kami dalah ketika kami disunat bersama saat aku duduk di bangku kelas 6 SD dan kakaku sudah kelas satu SMP. Kami saling tunjuk siapa yang disunat duluan. Setelah lama berdebat akhirnya kakaku pun mengalah dan mau disunat terlebih dahulu. Tiba-tiba terdengar dari ruangan sunat, kakaku menjerit keras dan merasa kesakitan, tidak hanya sekali tapi berkali-kali berteriak. Tentu saja hal itu semakin membuatku khawatir dan semakin takut untuk disunat. Sambil mengendap-endap aku berlari ketakutan sambil mengangkat sarung yang sudah kupakai. Tapi sialnya aku dihadang dan ditarik oleh ayahku. “Mau kemana kamu, bentar lagi kakak selesai disunat.” kata ayahku. “Engga yah cuma pengin ngompol.” sautku dengan muka yang sangat tegang dan ketakutan. Pas kakaku keluar, dia berjalan mengangkang dan menarik sarung yang dipakai keatas dan sambil merintih kesakitan. Tibalah giliranku dengan muka yang pucat aku mulai memberanikan diri. Sialnya pas aku disunat banyak yang ngeliatin karena pintunya tak ditutup. Aku kan jadi malu. Ternyata disunat tak sesakit yang kubayangkan. setelah selesai dia malah tertawa mengejeku. Ternyata tadi dia pura-pura kesakitan. Semakin perih ketika teringat akan kenangan itu, air mataku tak henti-hentinya menetes dan membasahi foto ini.
Aku masih ingat jelas kata-kata terakhirnya dulu sebelum dia pergi berlibur. Waktu itu dia berencana pergi mengikuti liburan sekolah ke Bali saat dia duduk di kelas 2 SMK.
“Akhirnya bisa liburan juga ke Bali,yeyeyeye emang kamu hend ga pernah liburan mentok-mentok juga liburan ke pulau kapuk.” ucap kakaku sambil mengejeku.
“Sudah sana pergi saja, ngapain kamu dirumah ngabis-ngabisin beras saja!” sautku yang menentang.
“Okelah ngapain dirumah terus sama kamu, tiap hari liburan cuma nonton TV aja, boros listrik tau anak cengeng.”
“Biarin apa pedulimu dasar rai bosok. Sudah sana pergi! Ngapain sih lama-lama dirumah.” jawabku yang mulai memanas.
“Iya biarin emang ini rumah punya kamu sendiri.” tegas kakaku sambil menjulurkan lidah.
“Bikin emosi saja sih. Males banget aku punya saudara kaya kamu, tiap hari kerjaanya cuma bikin iri hati saja.” tegasku.
“Emangnya aku mau saudaraan sama kamu hi tolol banget sih yah, dasar cengeng, culun, cupu, coba deh liat aku putih ganteng pula cewe-cewe banyak yang nempel emangnya kamu jadi cowo ko ga laku kasian banget deh .” ejek kakaku.
“Udah diem aja, kalau boleh milih juga ga sudi yah aku punya kakak kaya kamu, cuiih mati sajalah kelaut sana. Bahkan bumi ini nolak kalau kamu dilahirkan.”balesku tegas
“Oh gitu okeh dasar jelek makanya kalau punya kaca tuh buat ngaca. Aku aja ga sudi punya adik kaya kamu najis tralala lah pokoknya.”
“Bisa diam ga kalian berdua tiap hari bertengkar terus inget kalian udah gede malu-maluin ajah.” sahut ayahku yang datang dari kamar.
“ Sudah dan kamu jangan begitu sama adikmu, mending kamu sekarang siap-siap berangkat” perintah ibuku.
“Iya bu aku pamit dulu ya bu. Doain aku yah bu, yah agar selamat sampe tujuan.” ucap kakaku sambil cium tangan ibu dan ayah. Saat kakak nyodorin tangan ke aku aku cuma cuek dan diam saja. Karena saking marahnya aku kekakaku waktu itu.
“Ga punya tangan apa kamu hend!” ucap ayahku yang sedang terlihat marah. Aku langsung pergi saja tanpa mau bersalaman dengan kakaku, aku benci dengan sikap ayah dan ibu yang selalu membela kakaku ketimbang aku, mereka selalu pilih kasih. Aku masuk kamar dan melihat foto bersama aku dan kakaku. Dengan tangan yang terasa dendam langsung kubanting itu foto.
Paginya ada suara telfon berkali-kali namun aku cuek saja dan tak mau mengangkat. Telfon itu sudah berbunyi 6 kali tapi aku males saja dan tak mau mengangkat. Telfon itu sudah berbunyi 6 kali tapi aku males saja untuk mengangkatnya. Telfon itu pun bunyi lagi pas ayahku sedang lewat dan ayah menegorku kalau lain kali ada telfon itu diangkat jangan dibiarin saja siapa tau itu penting. Tapi aku tetap cuek saja. Setelah ayah mengangkat telfon tiba-tiba ayah hanya terdiam saja tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Dengan muka yang kaget, tak sadar hp yang ayah pegang terjatuh ke lantai. Lantas ibu pun langsung menghampiri kami. Aku pun bertanya kepada ayah namun ayah hanya diam saja bak orang yang tak bisa mendengar dan tak bisa bicara.”Ayah kenapa yah? Ayah kenapa hend?” tanya ibuku dengan muka yang panik. Ayah pun akhirnya mau bicara kepada kami.”Kalian yang sabar ya. Kata kepala sekolah dani tenggelam di pantai dan sampai saat ini belum ditemukan.” ucap ayahku dengan tubuh yang lemas. Mendengar kabar itu ibu pun langsung pingsan. Ayahku lalu langsung minta bantuan kepada polisi namun sama saja mayat kakak belum diketemukan. Rasa sesal becampur sedih pun langsung menyelimuti sekujur tubuhku, detak jantungku pun seolah-olah berhenti dengan sendirinya. Tak terasa air mataku mulai menetes. Satu persatu menetes dan jatuh kelantai seakan-akan berada diruang hampa nan sunyi tak terdengar suara apapun yang ada cuma suara air mata yang terjatuh. Tubuhku serasa tak bisa digerakan. Dikehampaan ini yang ada hanya seribu copian tubuh kakaku yang sedang tersenyum
ditambah bayangan-bayangan kejadian saat aku bertengkar dengan kakaku sebelum dia pergi berlibur ke bali. Rasa bersalah mulai menghantuiku dan bayangan-bayangan pertengkaran itu tak hentinya berulang-ulang muncul di pikiranku. Air mata yang menetes tak kunjung berhenti. Sebenarnya perasaan apakah ini, apakah ini perasaan kalau ditinggal saudara kandung satu-satunya. Tak kuat menahan perasaan itu aku pun jatuh pingsan. Dalam mimpiku aku bertemu kakaku lagi. Dia berada tepat di depanku dengan posisi berdiri membelakangiku lalu dia menoleh kebelakang dan berkata “Maafkan aku ya hend, berhentilah menangisi kepergianku seperti anak kecil saja. Jangan jadi cowo yang cengeng. Tolong jaga ayah dan ibu untuku. Sampai jumpa adiku sayang.” lalu dia menyodorkan tangannya ke aku untuk bersalaman. Teringat akan hal yang sama dan waktu itu aku enggan bersalaman, aku pun langsung berlari ke kakaku berusaha untuk memegang tangannya untuk yang terakhir kali aku tak mau kehilangan kesempatan yang sama seperti dulu, tapi sayang semakin kudekati dia semakin menjauh dan mulai menghilang. Aku pun berteriak “kak... Kakak jangan pergi .“ Aku pun terbangun dari tidurku di sebelahku ternyata sudah ada ayah dan ibuku.” Syukurlah kamu sudah bangun. Kamu sudah tidur selama 2 hari dan tadi kamu memanggil-manggil kakakmu dani sambil menangis nak .” ucap ibuku.
“Dimana kakak yah? dimana kakak bu?” tanyaku.
“Kamu yang sabar yah hend, kakakmu sekarang telah tiada. Sampai sekarang mayatnya belum diketemukan oleh polisi dan mereka mengatakan kemungkinan telah terbawa oleh ombak. Ayahpun tak kuasa melihat nasib kakakmu itu.” jawab ayahku. Tambah keluar air mataku ini. Tak kuasa aku melihat kepergian kakaku yang begitu cepat dan tragis.” Sudah lah hend jangan ditangi terus, kalau kamu menangis juga ga ada gunanya. Biarkan kakakmu pergi dengan tenang. Takdir hanya tuhan yang tahu kalau kamu menangisi kepergian kakakmu terus pastinya kakakmu akan sangat sedih melihatmu disana. Ibu juga tak kuasa melihat kepergian kakakmu yang masih muda itu tapi namanya hidup kalau kamu siap memiliki sesuatu maka kamu juga harus siap kehilangan apa yang telah kamu miliki.”
Siangnya aku dan orangtuaku pergi ke bali untuk mengenang kepergian kakak untuk yang terakhir kalinya.”Kak maafkanlah adikmu ini, maafkanlah semua perkataanku yang kemarin, maafkanlah semua keegoisanku ini kepadamu kak. Meski se benci-bencinya aku ke kamu, jauh di lubuk hatiku sebenarnya aku sangat sayang kepadamu. Semoga kakak tenang dialam sana. Sampai jumpa kakaku tercinta.” ucapku di tengah ombak kecil. Ayah dan ibuku pun langsung memeluku.”Hend ayah dan ibu berencana untuk pindah rumah supaya kita tidak teringat dan terbayang-bayang terus dengan kakakmu. Kamu mau kan?” tanya ayahku. “ Iya yah aku mau asal rumah yang lama kita jangan dijual ya.” pintaku. Ayah pun menyetujui keinginanku. Besoknya aku pun berkemas-kemas untuk pindah kerumah yang baru. Ketika aku menengok kebawah terlihat foto aku dan kakaku yang pecah karena kemarin aku banting. Langsung aku ambil dan membersihkanya. Foto itu satu-satunya kenangan yang kumuliki. Kemanapun aku pergi pasti foto itu selalu aku bawa dan satu-satunya yang setia menjadi teman curhatku.
Sudah sepuluh tahun rupanya kejadian itu berlalu. Foto ini selalu mengingatkan banyak hal tentangmu kakak. Berkatmu aku menjadi pria sejati, berkatmu aku menjadi pria yang tak cengeng lagi. Mungkin sudah saatnya aku akhiri rasa penyesalan dan keterpurukan ini. Kalau dipikir-pikir tak ada gunanya juga menangisi masa lalu. Masa lalu cukup jadikan kenangan dan koreksi diri untuk kedepannya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sudah kuputuskan kubasuh air mata yang sudah meluncur di bulu mata ini. Hari ini sudah waktunya aku mengikhlaskanmu pergi kak. Aku pun pergi kerumah lama kami. Aku berencana untuk meletakan foto ini dirumah tua kami dulu. Ketika sampai dirumah ternyata ada sebuah mobil yang parkir didepan rumah dan kondisi pintu rumah yang terbuka. Aku pun langsung masuk dan mencoba cari tahu siapa yang berani masuk kerumah lamaku. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah kamar lamaku aku pun langsung menuju kamar lamaku. Ketika aku mebuka pintunya terlihat sosok pria dengan kemeja abu-abu nan rapih. Postur tubuh yang lebih tinggi dari dan putih membuatku semakin penasaran siapa dia sebenarnya. Sambil memegang fotoku aku pun berteriak kepada si pria itu “Hay, siapa kamu berani masuk kerumahku”. Pria itu pun mulai menoleh kebelakang dan langsung terfokus melihat kearah foto yang ada ditanganku lalu dia berkata, “Hendri adiku”. Tak dapatku berucap seakan-akan mulutku terkunci dan tubuh ini tak bisa digerakan seperti terpaku. Yang ada hanya air mata yang keluar dari mataku. Diapun mendekat dan menjabat tanganku lalu memeluku dengan wajah yang tersenyum. Perasaan apa ini? Sedih bukan, senang tapi meneteskan air mata. Apakah ini yang dinamakan air mata kebahagiaan. Terimakasih ya Rab. Akhirnya aku bisa memanggilmu dengan sebutan “kakak”.
The end